Fisika Kontekstual

BERANDAA

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kontekstual artinya berhubungan dengan konteks. Konteks artinya situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Jadi kontekstual artinya berhubungan dengan situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.
Blanchard, Bern & Ericson (dalam Komalasari, 2009) mendefinisikan bahwa pembelajaran kontekstual sebagai sebuah konsep belajar dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang ada dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan bangsa. Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa untuk mengaitkan isi materi dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna.
Menurut Cole “Context” lebih menunjukkan kepada situasi lingkungan sekitar atau lingkungan dari beberapa objek atau aktivitas. Oleh karena itu, dalam lingkungan pendidikan, pembelajaran peserta didik dan konteksnya saling menentukan satu sama lainya, tidak ada yang dapat berdiri sendiri.
Di dalam artikelnya yang berjudul The contextual approach to teching physics, Wilkison menyatakan bahwa pendekatan kontekstual menempatkan pembelajaran fisika di dalam konteks dunia nyata di mana fenomena-fenomena sangat akrab dengan pengalaman pribadi peserta didik digunakan sebagai konteks untuk pembelajaran. Pendekatan tersebut lebih lanjut mengintegrasikan konsep-konsep pembelajaran sains dengan teknologi dan isu-isu sosial (pendekatan sains, teknologi dan masyarakat) (Wan & Nguyen, 2006).
Pembelajaran kontekstual berkaitan dengan adanya tuntutan akan kemampuan peserta didik dalam menggunakan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari untuk memecahkan masalah-masalah dunia nyata yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Premis dasar contextual learning adalah pembelajaran tidak dapat berdiri sendiri, tapi dengan bagaimanapun harus dihubungkan dengan atribut dunia nyata yang masuk akal bagi peserta didik. Konteks praktis tersebut memungkinkan peserta didik menghubungkan isi pembelajaran simbolis seperti konsep dan prinsip-prinsip untuk dikaitkan dengan dunia nyata mereka (Westera, 2011). Lave & Wenger dalam Libman (2010) beragumen bahwa tidak ada pembelajaran bebas konteks (context-free learning). Pengetahuan itu sesuai situasi dan terikat konteks (context-bound). Ini menyiratkan bahwa informasi yang dipelajari harus terhubung ke situasi kehidupan nyata di mana siswa cenderung menggunakannya. Dewey menyarankan bahwa pembelajaran harus dikontekstualisasikan dan disetel untuk situasi kehidupan nyata (Westera, 2011). Finkelstein (2001), mengemukakan bahwa pembelajaran bukan kegiatan sendiri, tetapi sebuah kegiatan sosial yang dipengaruhi oleh konteks lokal, formasi tugas, situasi dan budaya. Konteks ini secara analisis tidak terpisah, tetapi menyatu dalam pembelajaran peserta didik.
Pembelajaran kontekstual memberikan manfaat yang besar pada siswa  dengan menempatkan pembelajaran mereka pada situasi kehidupan nyata yang relevan di mana merupakan jalan untuk belajar lebih baik (Bransford, Brown & Cocking, 2000 ; dan Kolb, 1984 dalam Macaulay, Damme, & Walker, 2009).
Wilkonson menguraikan manfaat pembelajaran dengan memasukkan konteks, yaitu: 1) motivasi peserta didik dan engagement sebagai hasil dari dipahaminya pembelajaran yang relevan didapatkan dari fenomena–fenomena dan contoh-contoh kehidupan nyata; dan 2) pengembangan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dengan pertanyaan dipusatkan di sekitar konteks yang familiar akan pasti lebih efektif dalam pembelajaran (Wan & Nguyen, 2006).
Permasalahan-permasalahan kontekstual selalu dikaitkan dengan objek-objek atau kejadian-kejadian aktual di dunia nyata yang akrab dengan peserta didik. Berikut adalah contoh perbedaan tes yang menggunakan permasalahan akademis dan tes yang menggunakan permasalahan kontekstual pada pokok bahasan impuls dan momentum. (1) Tes dengan permasalahan akademis: “Sebuah bola biliard dipukul dengan gaya 20 N dalam selang waktu 0,5 sekon. Tentukan Impuls yang bekerja pada bola biliard tersebut!”, (2) Tes dengan permasalahan kontekstual: “Dua orang karateka sedang bertanding. Karateka pertama memukul karateka kedua sehingga bekerja impuls sebesar 100 Ns dalam waktu 0,1 detik. Karateka kedua memukul karateka pertama sehingga bekerja impuls sebesar 80 Ns dalam waktu 0,01 detik. Karateka manakah yang akan merasakan pukulan lebih sakit?”.
Pada tes dengan permasalahan akademis tampak mengandung objek dan kejadian yang diidealkan yang tidak memiliki kaitan dengan realitas peserta didik. Dalam permasalahan akademis, variabel-variabel yang tidak diketahui terspesifikasikan dengan jelas pada akhir kalimat soal dan variabel yang perlu dipecahkan secara konsisten dilaporkan dalam satuan yang konsisten. Hal ini tampak mendorong strategi pemilihan formula yang diingat yang berisi semua variabel yang tidak diketahui dan diketahui.
Di pihak lain, tes dengan permasalahan kontekstual mengandung objek dan kejadian aktual di dunia nyata yang akrab dengan peserta didik. Dalam permasalahan kontekstual tampak adanya motivasi atau alasan untuk mengetahui objek atau kejadian aktual di dunia nyata yang akrab dengan peserta didik. Sebelum manipulasi matematik dilakukan, peserta didik harus memutuskan 1) variabel-variabel spesifik yang berguna untuk menjawab pertanyaan; 2) konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika apa yang dapat diterapkan untuk menemukan variabel tersebut; 3) informasi apa yang akan diperlukan; dan 4) tempat dan cara memperoleh informasi itu. Jadi terdapat konsep-konsep dan prinsip-prinsip tertentu, yang diperlukan, dipertimbangkan, dan diputuskan dalam proses pemecahan masalah dalam hal mengorganisasikan perolehan informasi yang tepat (Srijaya, 2005). Jadi pemecahan permasalah kontekstual menekankan pada penerapan konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika daripada rumus-rumus yang akan digunakan, hal ini akan memberikan dampak yang lebih baik dalam meningkatkan hasil belajar fisika peserta didik.

Mulai belajarr

Satu respons untuk “Fisika Kontekstual

Komentar ditutup.